turing yang gagal

pernah turing ga? ga pernah!.. ndesoh!

sebenernya gw pernah siy ikutan turing. tapi sepertinya gw emang ga pantes turing motor gitu. mungkin gw pantesnya ikut rally dakar aja kali seperti biasanya.  emang siy klo menurut omongan temen gw yg ga bisa gw sebut namanya disini karena gw males nyebutnya, gw itu terlahir untuk dakar, fisik dan insting gw bener2 cocok dan menyatu di semua trek dalam rally dakar. oke gw akuin gw emang selalu memukau di dakar, tapi gw juga manusia yang butuh turing juga.

kesempatan ikut turing itu memang pernah hadir satu tahun lalu, tujuan perjalanan adalah taman cagar alam gunung bunder, orang2 biasa juga bilang gunung salak.  berkumpul kemudian kami di taman surapati jakarta. sekiranya 7 orang jumlahnya telah siap memulai petualangan, kami terdiri dari 5 pria dan 2 wanita, kelima pria ini adalah si A, si B, si C, si D, dan si E, sedang kedua wanitanya adalah si F dan si G. maap ya gw udah bilang gw males nyebutin nama temen2 gw itu, gw punya alasan pribadi kenapa gw sampe segitu malesnya walau hanya menyebutkan nama-nama mereka. pokoknya gw males, lu ga akan bisa memaksa gw untuk nyebutin nama-nama es_seroet, mopze, ka_zein, dodo, zhavha, dan sally_hana di blog ini, meski lu penasaran banget siapa temen2 turing gw waktu itu. maap banget ya 🙂

oke gw lanjut. kesempatan itu memang datang. tapi sayang gw dan rombongan ga pernah sampai ke target tujuan yang di rencanakan. dan itu bikin gw kecewa. banged 😦 sampe pengen nangis tiap inget peristiwa ini. lu tau khan, gw sangat mengidamkan untuk bisa punya pengalaman turing bareng anak2 motor yang katanya keren2, mungkin pengalaman gw ikut turing itu akan menarik kalo gw tambahkan didata biografi gw musin rally berikutnya.

oke gw galau sekarang, ya sekarang saat gw harus nulis pengalaman hina gw ttg turing yang gagal. dan gw udah nyaris menitikan air mata kekecewaan kalo gw ga inget saat ini gw lagi di kantor. lu tau khan rasanya menuliskan kronologi kejadian yang bikin lu sangat sangat kecewa secara detai? sebisa mungkin gw tahan sebak didada ini meski tiap kata hanya menambah rasa sakit. tapi dunia harus tau itu, gw harus jujur ttg siapa gw, ttg bagaimana sejarah yg tergores di dalam hidup gw.

jam 11 siang kami pun meninggalkan garis start melaju dengan santai menyusuri jalanan jakarta yang berdebu dan terik matahari menyengat langsung tanpa rindang daun pepohonan. gw resapi alur udara panas dan lembab yg menerpa muka gw seiring perjalan gw menuju gunung salak. satu jam berlalu, kami mulai merasakan udara yg menerpa jauh lebih sejuk dan dingin, memang kami baru saja melewati tugu batas jakarta dan bogor di daerah cinangka-sawangan menuju daerah parung. agak aneh menurut gw dengan perubahan suhu yg sangat drastis hanya karena gw melintasi tugu perbatasan. kayaknya ga gitu2 juga kali ekstrimnya, mentang2 udah masuk bogor, trus suhu langsung jadi dingin gitu. itu tugu batas apa gerbang dimensi siy?

tapi itulah yg terjadi, baru beberapa puluh meter melewati tugu batas suhu berubah dingin secara ekstrim. keheranan gw itu ternyata ga terlalu lama, sesaat kemudian gw dihadapkan pada kenyataan yg ga terbantah, yaitu hujan deras yg turun tiba2 tanpa gerimis. untunglah banyak sekali kedai dipinggir jalan sepanjang jalan raya sawangan itu. ternyata emang mau ujan makanya dingin banget.

menepilah kami di salah satu kedai, sekaligus kami gunakan kesempatan ini untuk mengisi bahan bakar organik untuk tiap2 lambung kami. menus yang ditawarkan memang sangat sederhana, nasi uduk, ayam goreng dan aneka jus buah. tapi itu cukup buat kami. oke, sampe sini masih terkesan senang dan bahagia, ikutin aja terus.

ga terlalu lama hujan pun reda, rombongan langsung lanjut perjalanan. kami memacu kendaraan hingga kecepatan 25 KM/jam. ingat, aspal basah abis ujan, dan kami mematuhi disiplin penggunaan jalan raya, jadi ga boleh ngebut.

memasuki daerah lebak wangi parung, hujan kembali menderu dengan kekuatan beberapa kali lebih hebat dari hujan yang sebelumnya dan lebih lama dari yg sebelumnya juga dan ga ada rumah atau warung di pinggir jalan sepanjang jalan daerah itu. air hujan pun dengan sukses merembes mengisi tiap rongga serat kain pakaian yg kami kenakan dengan kuantitas yang berlebihan, alhasil selesai pake mantel hujan, selesai juga cerita turing dengan baju kering. kita semua lepek kebasahan hingga ke lapisan kain terdalam.  udah mulai kehilangan satu rasa nyaman.

kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dibawah derai air hujan yang tiada merkurang malah makin nambah.

untunglah saat memasuki daerah semplak hujan telah reda, namun saat itu gw memutuskan bahwa hujan deras jauh lebih menyenangkan daripada harus berhadapan dengan banyaknya kawah2 yang menganga lebar ditengah jalan yg harus kami lintasi.  laju motor yg gw kendarai ga lebih cepat dari kecepatan ngesot si mega namun impactnya ke gw jauh lebih parah dari tendangan satpam ke jidat si mega.

jalan berkawah terlampaui sudah, dan kembali hujan mendera wajah gw dengan butiran2 yg menyakitkan. tutup visor helm burem, ga tutup pediiihhhh kayak di sabetin pake lidi. hujan dan bogor emang solmet banget dah

beginilah turing, deritanya tiada akhir.

akhirnya kami berhasil memasuki daerah cibatok. tapi hujan tak  kunjung reda sedang hari kian gelap, awalnya kami memaksa diri untuk terus mendaki jalur ke arah taman gunung bunder, namun kelelahan dan kedinginan melanda tubuh2 kami ini.

hujan sudah tidak terlalu deras. kami beristirahat sejenak di satu rumah ibadah, untuk kemudian beberapa diantara kami mengambil kesempatan untuk melakukan ibadah. hari sudah menjadi senja, meski kami tak melihat semburat mega cahaya mentari senja karena mataharinya emang sejak siang tertutup mendung terus, namun kami mengetahuinya karena kami memiliki ponsel yang terdapat fitur jam didalamnya.

menimbang dan memutuskan suatu hal yg paling pahit. hal yang paling ga gw harapkan. yaitu rombongan harus kembali ke jakarta. saat keputusan itu di putuskan, gw merasa semua hal buruk menimpa gw. pandangan gw mulai gelap, kepala pening, idung meler.  satu temen gw nampaknya menyadari ada yang ga beres di gw, dia pun nanya ke gw apa gw ada masalah. oke, lu emang temen yg perhatian, gw jawab “ga tau niy kenapa, yg jelas pandangan gw udah mulai gelap niy sejak keputusan kita kudu balik”. gw ga tau, kenapa temen gw justru jadi sewot denger jawaban gw. dengan suara nyaris berteriak temen gw bilang:

“dasar si oncom!.. sekarang kan emang udah jam setengah tujuh malem, ya gelaplah!..”

okelah anggap gw masih syok karena keputusan balik sampe ga inget klo jam setengah tujum malem itu emang udah seharusnya menjadi gelap. tapi ga perlu teriak2 juga kali. turing yang ga nyaman kini ditambah dengan suasana yang ga nyaman.

akhirnya kamipun putar arah kembali kejakarta, setelah sebelumnya kita menikmati satu2nya kehangatan diujung perjalanan turing itu di sebuah warung agak remang, kami, lima laki-laki dan dua wanita benar2 tenggelam dalam kehangatan yang memabukan. masing2 menikmati sensasi kenikmatan dalam semangkuk mie ayam dan segelas teh panas cukup menyegarkan kepenatan. setelah itu kami bergegas kembali ke jakarta.

perjalanan kembali kejakarta itu bukan perjalanan yang menyenangkan pula. selain suasan malam membuat pandangan dan pengenalan situasi dan memori jalan sepertinya hilang. hanya satu dua orang saja yg memang sudah sangat mengenal jalur.  ada satu teman yang selalu aja nyasar. tapi sotoynya ampun dah. malah motornya paling gede, jalannya paling kenceng. kalo nyasar susah ngejarnya. beberapa kali kelancaran perjalan pulang tertunda karena kehilangan anggota yang sotoy itu.

sesaat setelah melewati tugu batas jakarta dan bogor, kami rehat sebentar di satu restoran khas kota jakarta yang hedonist, yaitu restoran Mc Donald [Mc D itu restoran bukan siy?]

jam 11 malam gw udah sampai dirumah gw, beberapa yg lain masih haus mencapai rumah masing2 di wilayah jakarta lainnya.

demikianlah kisah perjalanan turing gw yang telah menggores jejak yang teramat dalam di ingatan dan benak kenangan gw. ga akan bisa gw lupakan.. kisah itu. semoga kalian tidak mengalaminya.

Advertisements

5 thoughts on “turing yang gagal

    • kemaren saya ajak, tapi ternyata kamu punya jalur yang beda ya, kami ke arah gunung salak, kamu ke arah bogor lewat citayam. kita ga sejalan kali ini :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s