kompromi, entah harus di maknai sebagai solusi atau masalah

setting= dua tahun yang lalu

Kompromi, banyak orang masih menganggapnya sebagai salah satu solusi yang paling mungkin untuk setiap permasalahan yang melibatkan dua pihak atau lebih.

Banyak yang kemudian merasa puas karena permasalahan dapat di selesaikan dengan kompromi, pihak yang berseteru menjadi berangkulan ikhlas dalam pertemanan. Memang begitulah yang di inginkan.

Kemudian, ternyata ada yang masih berpandangan bahwa tidak ada kompromi yang benar-benar memberi solusi.

Seorang teman, sebut saja dia bernama Rinto (bukan nama sebenarnya, hanya untuk memudahkan penyebutan saja, mohon maap jika ada yang kebetulan memiliki kesamaan nama, ejaan, atau mungkin ciri fisik yang saya sebutkan, semuanya hanya fiktif belaka). dia bersama temannya Ruslan (juga bukan nama sebenarnya) tengah terlibat dalam suatu perdebatan panjang demi memutuskan sikap terhadap kondisi dan peraturan baru yang di terbitkan oleh ibu Kos pemilik kamar yang mereka sewa.

Mereka tengah berdebat apakah harus pindah kos atau menerima peraturan baru yang mereka anggap sangat merugikan. mereka tengah berdebat mempertimbangkan kerugian dan keuntungan dari kedua opsi tersebut.

Entah karena apa, tiba-tiba Rinto berteriak “ini prinsip man!.., gw ga akan kompromi untuk hal yang satu ini, ini gw, ini nyangkut diri gw dan hidup gw. titik..

Ruslan ga mau kalah sengit, dia juga ikutan teriak-teriak, bahkan lebih keras dari si Rinto (karena pada dasarnya memang suaranya keras, jantan dan macho) “ini bukan masalah prinsip atau kompromi To, lu pikir lagi deh kalo mo pindah, repot banget, properti lu tuh banyak banget, trus tempat kos yang di Pemuda mahal semua, belum juga mereka pada mo terima ngekosin lu yang bawaannya banyak, segudang!.. trus gw juga yang repot bantuin lu

perdebatan terus bergulir, masalahnya bukan lagi pada masalah peraturan ibu kos, tapi sudah bergeser pada masalah mereka berdua. mereka melupakan rencana awal untuk mencari solusi yang paling baik antara pindah atau tetap tinggal.

saat itu saya yang berada bersebalahan dengan kamar mereka benar-benar merasa terganggu, awalnya saya tidak mau peduli dan berusaha untuk tetap cuek, tapi perseteruan mereka semakin sengit seiring dengan waktu yang semakin larut.

Tiga hari mereka masih belum mendapat keputusan.

Dalam hati, saya meledek mereka. Mereka seperti sepasang yang saling membutuhkan, saling tergantung, tetapi pada saat yang sama mereka saling menentang. sedikit ironis memang.

Hari ketiga malam hari, terjadi suasana yang cukup heboh, kamar sebelah kosan saya berantakan, kamar itu adalah kamar Rinto dan Ruslan. terlihat beberapa buku tebal tipis berserakan, bukan buku tak terpakai, tetapi buku-buku milik Ruslan yang memang hobi membaca, Ruslan yang baru saja tiba lagi-lagi teriak kaget “Rinto bangsat!!!!….”

saya yang juga baru tiba dari kampus serta-merta berlari menghampiri sumber suara menggelegar.

“Gw dah mau kompromi ma dia dan setuju pindah, gw dah bantuin bawain barang-barangnya sampe gw telat kuliah, dia ga mau bawain barang gw yang cuma buku doang. Sialan !!!…. Nyesel gw sepakat ma dia.”

KOMPROMI ???…

setting=hari ini tanggal 10 Januari 2008

kali ini saya yang menjadi korban dari keputusan untuk berkompromi.

kisahnya dimulai dari kedatangan penghuni baru di tempat saya tinggal sekarang (saya tidak kos lagi). penghuni kali ini sangat berbeda dari penghuni yang lainnya, memiliki kebiasaan yang sangat berbeda.

Penghuni baru ini sama sekali tidak mandiri sehingga menjadi tanggung jawab yang membawa nya bergabung di tempat tinggal saya.

Setelah beberapa bulan, saya mulai merasa sangat terganggu, sangat amat terganggu.

Beberapa kali saya mengungkapkan rasa terganggu saya kepada sang penanggung jawab, dia mengungkapkan berbagai alasan perihal keberadaannya, alasan yang masuk akal memang, karena setiap orang berhak memiliki kesenangannya, untuk diri masing-masing. untuk alasan tersebut saya sangat mengerti dan sangat menghargai, hobi memang sangat personal.

Penghuni baru ini adalah seekor anjing jenis terrier yang sangat lucu imut menggemaskan, dia juga bisa mengeluarkan suara yang aneh, tidak mirip dengan gonggongan, tidak mirip dengan suara apapun, dia juga sangat gemar memberi “marking” di seluruh ruang di tempat tinggal saya, berbagai benda di gunakan untuk membuat sign, simbol untuk menandai hasil markingnya. benda-benda tersebut, ada yang diproduksi sendiri di bengkelnya yang ada di perutnya, terkadang juga menggunakan benda-benda hasil rampasan saat dia melakukan ekspansi wilayah penandaannya.

Saya dan Sang penanggung jawab akhirnya setuju melakukan kompromi dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang di timbulkan oleh sang anjing tersebut.

Saya setuju dengan hasil kompromi yang memutuskan untuk membatasi kebiasaan si anjing ini melakukan ekspansi dan memberi marking dengan benda-benda aneh nya.

Sang penanggung jawab akan membuatkan senuah istana kecil untuk si anjing dan akan di lakukan pada tanggal 8 januari 2008. saya menerima kesepakatan tersebut dengan tulus, dan berharap semuanya berjalan lancar, saling menghargai usaha kompromi yang telah dilakukan dengan segenap apresiasi dan toleransi, walau pun itu berarti saya masih harus bersabar beberapa hari lagi setelah sekian bulan hidup penuh ketidak-nyamanan.

sekarang ini, saat saya menulis untuk blog ini adalah tanggal 11 Januari 2008, artinya saya telah di khianati oleh sebuah prosedur yang bermana kompromi, atau lebih tepatnya di khianati oleh oknum yang menggunakan prosedur tersebut.

KOMPROMI…., begitulah adanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s