semua terserah pada mu…

keasikan nongkrong di kampus sampai malam larut. sebenernya dah biasa saya melakukan aktifitas ini, terutama dulu waktu awal-awal perkkuliahan. sampai sekarang ritual itu masih dilakukan bahkan sering kali di hadiri oleh para sesepuh (mantan mahasiswa yang sudah lebih dari sepuluh tahun masih sering kekampus, bahkan lebih rajin dari mahasiswa yang masih aktif kuliah), saya belum termasuk sesepuh, karena baru delapan tahun bercokol, hehe…

nongkrong kali ini lumayan seru, karena dintara kami bertujuh ada seorang animator yang baru saja selesai menggarap film pertamanya. cerita punya cerita, pembahasan mengarah pada topik berkesenirupaan.

memang setelah lebih dari dua tahun ini saya tidak lagi melukis secara serius, tidak membuat seri-seri luksan lagi. hanya satu alasannya, yaitu kesibukan mencari rupiah menyita seluruh energi dan waktu.

teman saya itu memulai topik pembicaraan dengan pertanyaan “kew, lo masih ngelukis ngga?”

setelah dia mendengar jawaban saya yang mengatakan tidak, dia langsung saja berbicara panjang lebar bahwa dia juga dah lama tidak melukis, kesibukannya di studio tempat dia bekerja pulalah yang menjadi alasannya.

kemudian pembicaraan bergeser kearah ideologi dan idealisme, yang katanya seniman itu harus tetap memelihara idealismenya utuk menciptakan karya seni yang orisinil dan berkarakter. dalam hati saya bertanya-tanya apakah yang sesungguhnya dia maksud itu, hari gini ngomongin idealisme.

“kew, lo perhatiin ga, kalo anak-anak sekarang berkaryanya pada kacrut (maksudnya jelek atau asal-asalan), ga ada yang bagus, hampir semuanya sama, tema nya sama, gayanya sama, pendekatan konseptualnya sama, malahan goresan kuas dan warnanya aja sama” dia terus berkomentar.

sayangnya saat itu saya memang benar-benar tidak memperhatikan perkembangan karya teman-teman mahasiswa yang lainnya, jadi saya hanya melontarkan kalimat tanya dengan intonasi agak terkejut saja “masa sih kul !?” teman saya itu memiliki nama keren Too-Cool (dibaca “tukul”) karena dia memang cool, setidaknya kata cewek-cewek kampus.

yang mengherankan adalah kali ini temanku itu terlihat agak tidak cool, tidak seperti biasanya dia berkomentar, tidak biasanya dia tertarik untuk membicarakan hal seperti itu, bisanya dia adalah orang yang tidak terpengaruh dengan perubahan disekitar nya. dia juga biasanya selalu memperlihatkan sikap yang tidak peduli dengan komentar orang.

saya ingat beberapa tahun sila, saat masih sering berkarya. teman saya itu yang paling mengagungkan idealisme dalam berkarya. biasanya setiap kali dia melukis, dia selalu melakukan ritual persiapannya terlebih dahulu, yaitu menggunakan earphone dan mendengarkan lagu-lagu dari walkman nya dengan volume maksimal (saat iu belum musim MP3 player), saya yang disampingnya bahkan bisa ikut bersenandung karena suara earphone nya sampai juga ke telinga saya, hehe… dia menjadi sangat budek saat itu. alasannya yaitu dia tidak mau mendengar komentar selama lukisannya masih dalam proses, komentar dan kritik nya nanti saja kalau sudah selesai.

saat itu saya benar-benar melihat sebuah loyalitas dalam berkarya pada diri teman saya, saya tidak bisa seperti itu. sikapnya itu benaar-benar membentuk karakter dalam lukisannya yang memang tidak dimiliki oleh pelukis lain, bahkan dia menjadi kesayangan dari beberapa seniman yang menjadi mentornya.

kembali ke tema obrolan di tongkrongan kampus. saya bertanya padanya mengenai makna dan esensi dari sikap idealis tersebut. jawabannya memang terkesan se-kena nya, dia ringan saja mengatakan bahwa sikap itu yang akan menjadi identitas setiap seniman, dan karena sikap itu lah sniman di hargai sebagai seorang seniman, bukan pedagang eceran.

waduh, jawaban yang hebat, saya sampai ga berani nanya-nanya lagi. jawabannya membuat saya sedikit pusing dan mulai merasa suasana mulai serius dan tidak nyaman lagi. padahal saya sengaja kekampus dan nongkrong supaya saya sedikit mendapat suasana santai setelah seharian bekerja dikantor.

kembali saya mellihat too-cool yang dulu, yang memiliki sikap dan keras hati, setiap kata yang diucapkan adalah fatwa hidupnya, setiap kalimat adalah cerita panjang tentang prinsip hidupnya. saya benar-benar pusing, di tingkat kejenuhan yang mencapai puncaknya dalam benak saya saya teriak ” terserah apa kata lo dah, gw mah iya aja”.

kurang lebih 15 menit telinga ini seperti mendengarkan dentuman petasan, mata seperti melihat kilatan cahaya flash kamera, sampai pandangan menjadi putih semua dan tlinga berdenging-denging. otak saya sampai sakit menahanya.

nyamuk yang mulai banyak menyerang kami menjadi juru selamat, dan saya mulai mencoba mengalihkan tema pembicaraan. dengan alasan banyak nyamuk, saya ajak dia makan pecel lele dan sayur asem langganan saya tepat di seberang kampus. rupanya dia bersedia.

wuih.., selamat deh.