Kembali ke per-adab-an?

Ini masih berhubungan dengan pertanyaan bagaimanakah kebudayaan dibentuk. gw tidak menjawab pertanyaan ini berdasarkan terminology keilmuan, karena gw memang bukan ahlinya. Tetapi ada beberapa yang cukup menggelitik leher gw sehingga langsung saja udara mengalir melewati faring dan menggetarkan selaput suara gw yang sudah tidak lentur lagi ini, sehingga suaranya tidak terlalu enak untuk didengar.

Bunyi suara gw kurang lebih adalah sebagai berikut :

\\ manusia cenderung untuk memanipulasi kondisi yang ada, hingga kondisi tersebut terasa cukup nyaman bagi dirinya. Karena manipulasi dilakukan oleh seluruh manusia yang ada di dunia, maka terkondensasilah sebuah kondisi yang saling bersinggungan dan bertegangan. Mengapa demikian? Karena kecenderungan manusia itu sendiri yang menjadi penyebabnya.

Kondisi yang berlaku pada manusia tidak lagi berjalan secara natural.

Kemudian apa yang dirasakan? Tentu saja sebagian sangat menikmati dan sebagian lagi harus sedikit berusaha untuk menikmatinya. Kenyataan tersebut adalah sebuah keniscayaan dan berlaku sepanjang interval masa.

Mari kita sedikit menganalisa lebih dalam mengenai kondisi ini.

Manusia diwarnai oleh sangat banyak bakat, salah satunya di sebutkan diatas yaitu cenderung memanipulasi, bakat yang lain adalah cenderung ingin mendominasi. Manusia yang mampu mendominasi manusia lainnya biasanya mampu memaksakan kehendaknya sehigga terbentuk keadaan yang dapat membuatnya nyaman karena kondisi yang terbentuk tersebut lebih banyak memenuhi keinginannya.

Gw tidak membedakan baik atau buruk pada tiap karakter manusia ini, tetapi yang jelas adalah yang mampu membuat kondisi lebih baik untuk dirinya adalah manusia yang lebih mampu berperan dalam sebuah system.

Eit,,, tunggu dulu, jangan terburu-buru menilai atau menginterpretasikan kalimat terakhir diatas.

Tetapi tidak juga berarti buruk untuk manusia yang tidak cukup memiliki kemampuan memanipulasi keadaan menjadi kondusif untuk dirinya. Manusia jenis ini masih dapat mengambil keuntungan dan membuat dirinya nyaman, bagaimana caranya, yaitu dengan memposisikan dirinya sebagai instrument pelengkap bagi sang dominator. Ini adalah bakat lain yang dimiliki manusia. Sang superior selalu berbakat untuk merasa kurang, sedangkan sang imperior selalu berbakat mampu memberikan yang di inginkan sang superior.

Menurut hukum determinasi, hujan pasti akan terjadi walaupun manusia tidak menginginkannya, tetapi manusia dapat mengantisipasi setiap kemungkinan yang di sebabkan hujan atau memperkirakan kapan hujan akan terjadi, atau kematian adalah sesuatu yang pasti jika seseorang tertembus peluru pada tempurung kepalanya, tetapi resiko kematian dapat reduksi jika menggunakan pelindung kepala, atau yang lebih bersahaja adalah kematian pasti terjadi karena kita butuh orang-orang untuk mati, dan alam pasti mempertahankan keseimbangannya agar dapat menampung kehidupan yang lebih berkesinambungan.

Demikian juga manusia dan keadaan, selalu saling bekerja dalam sebuah system kesetimbangan.

Dua kali gw menyebutkan kata “system”, karena secara tidak sadar manusia sebenarnya telah terperangkap dalam sebuah sinergi kerja yang satu dan lainnya saling mempengaruhi.

Kemudian mari kita merevisi pandangan kita mengenai manusia mengubah kondisi dan keadaan seperti yang selama ini kita yakini, menjadi manusia hanyalah bagian dari system universal dimana system tersebut membutuhkan manusia agar dapat bekerja dengan baik dan seimbang. Dalam hal ini manusia beperan layaknya sebuah sparepart dalam sebuah mesin mekanik yang masing-masing harus menjalankan fungsinya sesuai karakternya.

Bagaimana, setuju?

Tetapi manusia juga diberikan bakat atau potensi untuk mengenali fungsinya dan meng-interpretasikannya dalam sudut pandang sendiri-sendiri, walau sebenarnya adalah tetap saja merupakan sebuah penegasian dari kenyataan yang sebenarnya.

Manusia yang berlari mengingkari dirinya adalah hanya sebagai onderdil dari system universal ini biasanya menyebut keadaan yang tengah berlangsung di sekitarnya adalah sebuah peradaban yang dibentuk, oleh dirinya, masyarakatnya, rakyatnya, kecerdasannya, pendahulunya, atau yang lebih skeptis sering menganggap kondisi ini sebagai anugerah tuhan yang dipercayakan kepada dirinya//

Weleh-weleh…apakah gw mendapat peran hebat dalam system universal saat ini? Atau sebaiknya gw ikuti saja orang-orang yang putus asa dan menganggap ini adalah peradaban yang di bentuk manusia. Sejujurnya gw lebih suka pilihan yang terakhir

logis dan skeptis

Gw pernah pusing tujuh puluh keliling gara-gara temen gw tanya mengenai logis dan skeptis.

Sebenarnya temen gw itu cuma iseng aja, dia ga terlalu membutuhkan jawaban yang panjang lebar. Temen gw cuma lagi gundah hati karena pacarnya baru aja bilang dia selalu cenderung skeptis dan ga logis kalau berpikir.

Sebagian gw setuju ma pacarnya temen gw itu, buktinya temen gw ini ga ngerti maksud keluhan pacarnya terhadap dirinya tersebut. Gw sendiri sebenerya juga ga ngerti bagaimana menjelaskannya, karena jujur aja gw ga pernah memikirkannya secara cermat apalagi detil sampe definisi atau epistemologi.

Awalnya gw juga ringan aja menjawab dengan analogi asal-asalan ciptaan gw. Gw bilang begini “logis itu kayak dua tambah dua sama dengan empat, skeptis itu kayak orang yang menganggap ga ada beda nya antara dua kali dua dengan dua tambah dua”.

Hehe.. ngasal banget khan..

Temen gw tambah bingung, gw ga menyalahkan dia jika jadi tambah bingung, tapi yang salah emang gw yang ngasih jawaban ga bertanggung jawab itu. Semoga tuhan memaafkan gw ini.

Setelah itu maka berbagai perasaan menyesal menghinggapi gw bukan karena gw merasa bersalah dan idak bertanggung jawab pada dunia ilmu pendidikan, tetapi rasa menyesal ini disebabkan temen gw lagi yang terus menerus memberondong gw dengan berbagai pertanyaan yang lebih berat lagi karena berkaitan dengan matematika. Aduh mak gw pengen bunuh diri aja dari pada disiksa dengan matematika.

Sialan…

Gw jadi paranoid kalo ada iklan di tivi yang bilang mulutmu harimau mu. SEREEEMM,,,

mimpi teraneh

Kalau dingat-ingat, mimpi semalam gw rada-rada aneh, terlalu biasa dan terlalu normal jika dilihat dari kodrat mimpi yang selalu unpredictable.
Semalam gw mimpi bahwa gw bangun paginya kesiangan, trus buru-buru mandi sekedarnya, berangkat ngantor, siapin dokumen yang diperlukan. Trus bangun deh
Biasa banget khan?
Terlalu normal dari selayaknya mimpi.