Gadis kenalan ku heboh

 

Bukan yang pertama gw kenalan ma cewek, tetapi yang satu ini termasuk yang luar biasa, heboh tapi menyenangkan. Mahasiswi AK02 UNJ, ga jauh-jauh masih satu kampus.

Sama-sama abis belanja bulanan di tiptop supermarket deket kontrakan, dia juga ngontrak rumah deket gw. Berbagai kebetulan masih berlangsung, dia mau pergi ke senayan liat pameran buku sore ini, sedangkan gw juga harus kesenayan karma ikut karnaval ogoh-ogoh [patung dewa dan raksasa kepercayaan salah satu agama terbesar di Bali], gw ikut serta karena harus menyelesaikan tugas kuliah patung lanjut, salah satu karya tugas patung gw gw ikut sertakan pada karnaval. Itu tahun 2002 yang silam.

Dia anak baru coy,,,,

semester pertama.

Gw iseng ajakin dia berangkat bareng, dia bersedia, tapi ga jadi ke pameran buku, tetapi malah ikut karnaval karena penasaran ma acaranya. Akhirnya gw cukup kerepotan karena hrs menyiapkan kostum bwt dia.

Tapi dasar anaknya heboh dia mau aja harus pakai kostum serem sesuai tema patung raksasa yang gw bikin.

Gw dating nyaris terlambat, sementara patung setinggi 3,5 meter dah siap nunggu di gotong untuk menari. Parkir timur senayan meriah sampai jam 8 malam. Kru yang Bantu gw kini bertambah satu orang wanita berperan sebagai putri yang mengorbankan diri untuk dimakan raksasa jahat supaya tidak menghancurkan kampungnya, begitu ceritanya.

Dasar heboh, dia sempurna memerankan gerakan2 dan tarian serta teriakan, akhirnya nilai A gw peroleh.

Setelah itu gw sering ajak dia ke berbagai acara seni, baik pameran senirupa maupun pagelaran teater, bahkan beberapa kali ikut terlibat jadi panitia bantuin gw.

Semakin banyak kenalan ma temen2 gw yang semua nya anak seni, dia semakin heboh, larut ikutan gila kayak temen2 gw.

Akhirnya dia jadi pacar gw selama satu bulan. Cuma satu bulan tapi berkesan. Dia masih jadi bagian kelompok gw, pacar barunya sering kali marah karena dia sering memprioritaskan aktifitas bareng gw, bahkan dia lebih sering nemuin gw dari pada pacarnya yang satu jurusan ma dia.

Dia udah sarjana kini, dan gw masih bertahan dikampus jadi macan kampus tua, dia kerja di bank BCA sebagai apa gw gat tau, karena istilahnya susah di inget. Tiap malem gw makan bareng ma dia, karena tempat tinggal kita berdekatan.

Saat ini dia lagi berusaha untuk melanjutkan S2, dia sering bilang ma gw supaya kuliah gw yang berantakan segera di selesaikan, dan ikut dia melanjutkan S2. [gw cuma bisa bilang masih betah di seni].

Sebenernya gw masih suka ma dia tetapi sudah terlalu dekat sebagai teman. Trus gw juga ga bias dapetin lagi cewek yang asik kayak dia, yang mengerti dan mendukung semua aktifitas berkesenian gw.

Dia ga pernah komentar tentang rambut gw yang gondrong, pendek, botak, cepak, gimbal, ga pernah keramas, dia juga ga pernah ragukan gw untuk setiap kompetisi yang gw ikutin.

Setelah dia beberapa kali gw coba deketin cewek, pasti dia kabur karena gw yang menyeramkan, tidak bisa diajakin kemana-mana karena penampilan gw yang ga sesuai ma mereka. Gw coba untuk ajak dia kenalan ma temen2 gw, dia bilang serem.

Sampe sekarang Cuma si gadis heboh itu aja yang masih ngertiin gw. Tapi dia milik orang lain.

Advertisements

Beberapa teman ku melawat kemalaysia

Arif Darmawan aka Nganga dan Muhamad Ridwan Raurau, mereka adalah seniman yang masih muda masih mahasiswa dan masih bergelora. Pengalaman berkeseniannya tidak diragukan lagi, mereka memiliki jam terbang yang panjang,bukan hanya di dalam kampus tetapi eksis juga di luar kampus dan bahkan seringkali di undang untuk ikut serta terlibat pada beberapa kampus di indonesia.

 

Kali ini mereka di undang untuk datang ke malaysia untuk membawakan performance art, perhelatan mereka tak lain disebabkan karena eksistensinya terhadap salah satu disiplin seni performance art. Saya sendiri tidak terlalu paham esensi dari performance art, karena kelemahan saya dalam mencari informasi dan sangat jarang menghadiri acara-acara yang membahas performance art.

 

Mereka kali ini berangkat bersama beberapa kawan seniman dari berbagai negara yang mendalami pendidikan di Indonesia.

 

Salah satu bentuk pengakuan dunia terhadap sepak terjang seniman muda indonesia.

 

Selamat jalan temanku Arief dan Raurau, kalian pasti mendapatkan sukses besar di kemudian hari

Budaya dan kebudayaan

Budaya dan kebudayaan

Kebudayaan adalah sebuah penomena yang cukup menarik perhatian.

Awalnya adalah ketika saya mengajar pendidikan kesenian di sebuah Sekolah Menengah Atas di Jakarta, saya memberikan materi tentang keragaman kebudayaan nasional indonesia.

Sebagai pengantar saya memberikan sedikit wacana umum tentang budaya atau kebudayaan.

Saya coba melemparkan pertanyaan pada para siswa mengenai apa dan bagaimana budaya itu esungguhnya.

Saya tidak mengharapkan jawaban lengkap meliputi tatanan epistemologi dan ontologi, saya hanya ingin mendengar jawaban sederhana saja dan jujur, ternyata jawaban jujur mereka cukup membuat saya pusing untuk terus memberikan pengantar mengenai kebudayaan.

Mereka menjawab bahwa kebudayaan adalah wayang golek, wayang wong, kebaya, ketoprak, ngaben dan lain-lain.

Apa yang salah dari jawaban mereka?

Dan mengapa saya bisa sakit kepala karena jawaban mereka?

Bagaimana menurut anda, apakah jawaban mereka salah seluruhnya, atau benar seluruhnya, atau ada benarnya dan ada salahnya?

Lalu mengapa saya sakit kepala? Anda bisa menebak mengapa?

Kelas tetap saya lanjutkan langsung masuk ke materi tanpa pengantar, dan para siswa masih menyimpan rasa bangga karena jawaban mereka tidak saya sanggah atau saya komentari, mereka merasa jawaban mereka sangat sempurna.

Kepala saya pusing lagi.

Pulang mengajar saya masih teringat mereka. Ada sedikit ada keraguan dengan apa yang selama ini saya ketahui mengenai budaya atau kebudayaan.

Langsung saya buka lemari buku, saya tarik keluar satu buku yang paling mungkin dapat menjawab keraguan saya.

Ternyata benar, pada lembar awal pengantar penulis saya langsung mendapat jawaban esensial mengenai kebudayaan.

Mengapa kebudayaan dianalogikan dengan wayang golek, wayang wong, dan lain-lain?

Terdapat kekeliruan dalam meng-interpretasikan kebudayaan. Siswa SMA mungkin dapat di maklumi jika berpikir kebudayaan sama dengan wayang, karena semua setuju bahwa wayang adalah salah satu produk dari kebudayaan.

Tetapi akan sangat berbahaya jika orang dewasa menjawab dengan jawaban yang sama seperti para siswa, karena kebudayaan itu bukan semata-mata sebuah bentuk jadi melainkan sebuah proses kerja yang bersifat dinamis dan selalu berada dalam wilayah progress, tidak akan pernah berakhir.

Wayang adalah sebuah produk budaya, pada masyarakat jaman dahulu sebuah kebudayaan berkembang dalam lingkungan kemasyarakatan, tetapi mereka bukan wayang, mereka manusia sejati dengan kebudayaan seperti yang di lakoni oleh berbagai karakter dalam pewayangan.

Salah satu orang dalam masyrakat saat itu memiliki peran yang kurang lebih seperti guru pada saat ini atau pemerhati yang berkecimpung dalam antropologi, yang mencatat, merekam, dan mengabadikan perilaku manusia pada masa tersebut.

Atau seorang sastrawan, seniman, yang membuat partitur yang berisi harapan tentang kondisi ideal masyarakat dengan mental dan moral yang sangat mapan [jaman sekarang orang sering mengistilahkannya dengan utopia].

Lalu ada seorang lagi yang memiliki wawasan dan mengerti serta paham bahwa karya seniman tersebut adalah karya yang luar biasa, lalu di simpan, di rawat, di konservasi, lalu disiarkan sebagai wacana hingga turun temurun.

Lalu tiba pada masa sekarang dimana produk kebudayaan benar-benar ditempatkan sebagai produk yang. Maka ada sekelompok manusia yang memahami bahwa produk sama dengan aset sama dengan komoditas sama dengan keuntungan.

Saya hidup di jaman yang digambarkan paragraf diatas. Jaman yang memahami kebudayaan sebagai objek wisata, kebudayaan harus di lestarikan, kebudayaan yang merupakan sumber pendapatan, kebudayaan yang tidak dipahami.

Kenyataan seperti menghantam kepala saya dengan batu besar lalu bumi seperti terbalik dan saya terbawa pada perasaan sendiri, sepi dan merinding karena dihadapkan pada kengerian yang luar biasa.

Betapa tidak, lebih dari enam tahun bergelut dalam dunia kebudayaan, dunia seni, dunia epistemologi, dunia aksiologi,dunia ontologi,dunia dengan segala keluhuran aktifitas, dunia dengan segala perasaan indah.

Ternyata semua hanya dunia simulasi dari dunia utopis yang tak pernah ada, sedangkan dunia nyata di tutup sangat rapat bahkan kedap udara sehingga aroma nya tidak pernah bisa saya rasakan.

Sejenak saya berpikir dan mencari siapa penyebab kesalahan semua ini, tetapi kembali kepala saya berputar, bahkan lebih cepat dari pusing yang sebelummnya.

Bermacam-macam para tersangka muncul dalam waktu singkat, langsung berjubelan di depan wajah saya dengan jarak yang sangat pendek, sehingga mata saya dipaksa untuk memfokus pada jarak sangat dekat.

Para tersangka tersebut semuanya berteriak-teriak bahwa mereka tidak bersalah dengan berbagai alasan yang mereka ungkapkan.

Menteri pendidikan nasional :

“saya tentu saja tidak bersalah, karena sekarang saya sudah tidakmenangi masalah kebudayaan, terima kasih kepada pa dur yang sudah memisahkan pendidikan dan kebudayaan. Dulu depdikbud sekarang depdiknas, berarti saya tidak bersalah donk. Kalo mau salahkan saja pa dur, waktu jadi presiden, beliau lah yang memisahkan pendidikan dengan kebudayaan, jadi saya tidak bersalah khan? Iya khan?,,,, “.

PGRI :

“saya ini harus memikirkan banyak sekali variabel, mas. Oleh karena itu wajar donk kalau saya tidak begitu memprioritaskan masalah kecil seperti itu, yang jadi prioritas utama saya adalah bagaimana agar saya dan rekan-rekan ini sejahtera hidupnya sebagai guru, mas tau kan guru itu kurang mendapat perhatian dari pemerintah, guru itu terlanjur dianggap pahlawan yang tidak memerlukan tanda jasa, sehingga tidak terlalu dipikirkan, mas juga kan tau kalau kita semua juga manusia, untuk merayakan ulang tahun saja saya harus memberika surat edaran kepada semua teman-teman untuk memberikan tambahan iuran wajib. Maka dari itu, mas sangat salah sasaran kalu menuduh saya menjadi penyebab masyarakat sekarang ini tidak memahami kebudayaan. Eh mas, btw kebudayaan itu apa ya?”.

Menteri pariwisata :

“Hidup kebudayaan, karena kebudayaan para leluhur, sekarang saya tidak terlalu pusing untuk memberikan segala macam pengeluaran ke setiap daerah. Sekarang setiap daerah sudah diberikan otonomi untuk mengelola segala macam sumber kebudayaan setempat sebagai komoditas pariwisata. Saya jadi sering kebagian proyek, dan sekarang saya lagi rajin mengajukan proposal untuk pembangunan objek pariwisata, sabetannya lumayan mas. Kalo dipikir-pikir, saya ini orang yang berjasa melestarikan kebudayaan loh, makanya mas jangan asal menuduh bahwa saya yang menyebabkan masyarakat tidak mengerti budaya, tidak memiliki budaya, tidak paham budaya. Saya ndak mengerti mengapa mas menuduh saya, saya ini tidak mungkin bersalah, bahkan saya tidak melihat adanya kesalahan dalam masyarakat, kok mas bisa-bisanya bilang masyarakat kita buta budaya, hati-hati lo mas, mas bisa saya tuntut, mas bisa masuk penjara karena masalah ini, sadarlah mas, kita ini hidup di dunia nyata, bukan dunia ideal, dunia ideal cuma ada di dalam laboratorium yang semuanya sudah di set oleh para ilmuwan. Sudah ya saya sibuk, banyak daerah yang membutuhkan bantuan saya”.

Waduh….! Saya malah kena cerca.

Kalau saya tulis semua, bisa-bisa tulisan ini tidak selesai-selesai.

Karena masih pusing, saya pun berlari meninggalkan mereka para tersangka itu, sampai seorang teman menghentikan saya dan bertanya kenapa saya berlari, dan kenapa berlarinya kadang kekiri kadang kekanan seperti cara berjalan orang mabuk.

Saya jawab singkat bahwa saya sedang sakit kepala dan sedang menghindar dari cercaan orang.

Lalu saya bertanya kepada teman saya mengenai apa dan bagaimana budaya atau kebudayaan itu, dia menjawab seperti berikut :

“Menurut saya kebudayaan itu adalah sikap manusia secara kolektif yang memungkinkan untuk sebuah kemajuan baik secara mental, dan keilmuan, tidak didasari oleh kecenderungan memperoleh keuntungan untuk diri sendiri, tidak mengorbankan orang lain, atau kelompok lain, semuanya harus berjalan dengan sinergi yang harmonis, memiliki kekuatan untuk membentuk sebuah pola kemasyarakatan yang kuat, sebagai sesuatu yang diyakini membawa kebaikan, dibentuk karena peran aktif setiap unsur masyarakatyang membentuk sebuah sistem yang bekerja dengan kinerja optimal, sebuah keberadaan yang dimanis, sebuah kondisi massive yang sangat potensial pada perubahan, sebuah aktifitas sosial yang dipercaya masyarakat, sebuah wacana intelektual, sebuah eksplorasi potensi dengan optimisme, sebuah sikap positif, sebuah kebersahajaan, sebuah momentum yang memberi energi pada usaha percepatan, sebuah konstelasi singular dan juga iregular, sebuah mode kesepahaman, sebuah karakteristik, sebuah sumber kekuatan sikap, sebuah sejarah yang mendukung keberlangsungan dunia”.

Sebenarnya saya masih kurang puas dengan jawaban teman saya itu, tidak terangkai secara sistematis, tidak dapat dijadikan teori, masih terlalu banyak ungkapan secara personal, tapi kok saya sedikit lebih tenang ya, sebagian hati ini puas, dan sakit kepala saya mulai berkurang.

Saya harus banyak belajar lagi.

Saya masih harus banyak berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, saya ingin sekali mendapat jawaban sederhana dari berbagai sudut pandang.

SENI jangan malas

kebiasaan gw dulu suka nunda-nunda tugas kuliah, lebih memprioritaskan ngobrol ma temen2 di pendopo seni. kalo dipikir2, yang di obrolin mang tentang wacana, ga asala ngobrol, tetapi tetep aja gw harus begadangan kalo jadwal ngumpulin tugas dah masuk injury-time.

kita semua terkenal dengan mahasiswa injury-time, hehe

kerasa deh sekarang, ga lulus-lulus.

tapi gw tetep semangat, karena sekarangpun gw masih bisa nikmatin pendidikan non formal ma temen-temen gw, intinya kita tuh cinta banget ama yang di sebut self-improvement.

belajar dimana aja, kapan aja, ma siapa aja.

tapi kuliah tetep no 1 men.

kalo ga puas ama yang di dapet dikampus, kita semua langsung cari orang he bat buat ngasih kita kuliah. perkuliahaannya sampe sekarang masih berlangsung, namanya PROGRAM KULIAH TERBANG.

gw belajar banyak ma temen-temen gw yang semua bercokol di sebuah tempat bernama SERRUM yang hebatnya lag, buat membiayai semua program, mereka pada bekerja sambilan, cari order, dan sangat profesional dalam banyak bidang kerja, ada yang jago desain grafis, webdesign, illustrasi, komik, interior, mural, grafiti, patung, lukis, bodypainting, pokoke banyak banget dah keahlian mereka.

gw gabung ma mereka hampir setahun, dan banyak belajar mengenai optimisme, semangat, kinerja, dan kepribadian, malas ga pernah ada di kehidaupan serrum.

serrum selalu menyediakan semua kebutuhan nya sendiri, itu yang paling berkesan dan merubah hidup gw. mereka bikin web komunitas yang didukung banyak jaringan komunitas Indonesia da Internasiona, dan mereka juga membuat web untuk urusan komersial untuk mempermudah hubungan dengan partner kerja.

gw sekarang benar-benar meninggalkan hidup malas.

semangat!

poster kuliah terbang